Ketika Laki-laki Dan Perempuan Bersentuhan

KETIKA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN BERSENTUHAN

Oleh Drs. Nur Mujib, MH.

(Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam)

Dalam realitas kehidupan sehari-hari ditengah-tengah masyarakat muslim ada yang berpendapat bahwa bersentuhan antara laki-laki dengan perempuan itu membatalkan wudhu dan ada yang berpendapat bahwa bersentuhan antara laki-laki dengan perempuan itu tidak membatalkan wudhu.

Hal yang berhubungan dengan menyentuh perempuan ada disebutkan dalam al-Qur’an, yaitu potongan ayat dalam surat an-Nisa’ ayat 43 yang berbunyi “Au Laamatumunnisaa’a falam tajiduu maa’an fatayammamuu sha’idan thayyiban, atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci)”, potongan ayat ini diulang lagi dalam surat al-Maa’idah ayat 6. Dalam Al Qur’an Dan Terjemahannya keluaran Departemen Agama RI, kalimat Au Laamatumunnisaa’a dalam surat an-Nisa’ ayat 43 diartikan dengan “atau kamu telah menyentuh perempuan”, sedang dalam surat al-Maa’idah ayat 6 diartikan dengan “atau menyentuh perempuan”. Kira-kira maksud potongan ayat tadi adalah, apabila kamu menyentuh perempuan dan tidak mendapatkan air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (bersih).

 

Dari kedua potongan ayat diatas dapat disimpulkan bahwa kalau laki-laki menyentuh perempuan maka dia harus mencari air, kalau tidak mendapatkan air harus bertayamum. Fungsi air bagi kita dalam beribadah adalah untuk berwudhu atau mandi janabat. Jadi kalau ada laki-laki menyentuh perempuan, dia harus mencari air untuk berwudhu atau untuk mandi janabat. Kalau tidak menemukan air, maka berwudhu atau mandi janabat itu diganti dengan tayamun memakai tanah yang suci.

 

Yang dipermasalahkan sekarang adalah apakah yang dimaksud menyentuh perempuan dalam potongan ayat tadi. Menyentuh dengan tangan atau menyentuh dengan arti lain?.

 

Lamastum adalah bahasa arab diambil dari akar kata “al-lamsu” yang arti sebenarnya adalah menyentuh dengan tangan. Arti kinayahnya kalau dikaitkan dengan kata perempuan (lamastumunnisa’, menyentuh perempuan), maka kata lamastum berarti berhubungan badan antara suami isteri (bersetubuh, jima’).

 

Para ulama salaf telah berbeda pendapat mengenai apakah yang dimaksudkan lamastum dalam potongan ayat tadi, artinya menyentuh dengan tangan atau artinya bersetubuh. Ali ash-Shabuni dalam kitabnya Rawa’i’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an, menyatakan bahwa sahabat Ali, Ibnu Abbas dan Hasan mengartikan lamastum dengan bersetubuh. Sementara Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan asy-Sya’bi mengartikan lamastum dengan menyentuh dengan tangan.

 

Para pakar hukum Islam utama (Pendiri madzhab) pun berbeda pendapat, apakah menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu atau tidak? Dalam hal ini dapat disampaikan sebagai berikut :

  1. Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa menyentuh perempuan itu tidak membatalkan wudhu, baik menyentuhnya dengan syahwat atau tanpa syahwat.
  2. Imam asy-Syafi’i berpendapat bahwa menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu, baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat.
  3. Imam Malik berpendapat bahwa menyentuh perempuan, jika dengan syahwat dapat membatalkan wudhu, tetapi jika menyentuhnya dengan tidak syahwat, maka menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu.

 

Imam Abu Hanifah berargumentasi menyentuh perempuan dengan tangan itu tidak membatalkan wudhu dengan mendasarkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah bahwa Nabi Muhammad saw mencium isterinya kemudian shalat dan tidak berwudhu. Beliau juga berargumentasi dengan hadits lain, riwayat Siti Aisyah juga, bahwa Siti Aisyah mencari Nabi Muhammad saw pada suatu malam. Aisyah mengatakan: “Tanganku jatuh pada telapak kaki Nabi, waktu itu beliau sedang sujud”. Beliau berkata: “Aku berlindung dengan ridhoMu dari kemurkaanMu”.

 

Imam asy-Syafi’i berargumentasi bahwa kata lamastum mempunyai dua makna. Makna hakekat adalah menyentuh dengan tangan dan makna kinayah atau makna majaz adalah jima’ atau bersetubuh. Kalau suatu kalimat bisa dimaknai dengan makna hakekat, maka tidak perlu menukar kepada makna kinayah atau majaz, kecuali pemakaian makna hakekat itu ada halangan. Kata lamastum arti hakekatnya adalah menyentuh dengan tangan dan tidak ada halangan untuk memakai makna hakekat maka tidak perlu dipindahkan kemakna kinayah dengan arti bersetubuh.

 

Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa Abu Hanifah berpendapat bahwa arti lamastum dalam 2 ayat tadi artinya tidak menyentuh dengan tangan tetapi dibawa ke dalam arti kinayah atau majaz yaitu bersetubuh atau jima’. Kalau ada laki-laki berjima’ dengan isterinya maka ia harus mencari air untuk mandi janabat. Kalau tidak bisa mendapatkan air maka ia harus bertayamum dengan tanah yang suci. Kalau ada laki-laki yang menyentuh perempunan dengan tangan maka ia tidak batal wudhunya sehingga tidak perlu mencari air untuk berwudhu atau mencari tanah yang suci untuk bertayamum.

 

Menurut Imam asy-Syafii bahwa arti lamastum dalam 2 ayat diatas adalah arti hakiki yaitu menyentuh dengan tangan. Dengan demikian barang siapa laki-laki yang menyentuh perempuan dengan tangan maka ia harus mencari air untuk berwudhu, kalau tidak mendapatkan air, maka ia harus mencari tanah yang suci untuk bertayamum.

 

Menurut Imam Malik bahwa arti lamastum itu menyentuh dengan tangan. Tetapi tergantung sifat menyentuhnya itu. Kalau menyentuhnya disertai nafsu syahwat, maka membatalkan wudhu sehingga ia harus mencari air untuk berwudhu atau kalau tidak mendapat air harus mencari tanah yang suci untuk bertayamum. Kalau menyentuhnya tidak dengan nafsu syahwat maka tidak membatalkan wudhu.

 

Imam Ibnu Rusyd dalam kitabnya Bidayah al-Mujtahid menyatakan bahwa sebab perbedaan dalam menggunakan kata lamastum itu adalah karena beragamnya kata lamasa dalam bahasa arab. Kata lamasa dalam bahasa arab suatu ketika dipakai dengan arti menyentuh dengan tangan dan suatu ketika dipakai dengan arti bersetubuh atau jima’.

 

Penulis tidak akan menganjurkan kepada para pembaca untuk memilih pendapat yang mana yang harus diikuti. Apakah bersintuhan antara laki-laki dan perempuan membatalkan wudhu atau tidak. Mengamalkan ajaran agama adalah keyakinan. Kalau pembaca yakin bersintuhan antara laki-laki dengan perempuan membatalkan wadhu, ya amalkan. Kalau pembaca yakin bersintuhan antara laki-laki dengan perempuan tidak membatalkan wudhu, ya amalkan. Semuanya mempunyai dasarnya masing-masing, tergantung keyakinan kita untuk memilih pendapat yang diyakini. Wallahu a’lam bisshawab.

 

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai