Ketika Isteri Sedang Menstruasi

 

KETIKA ISTERI SEDANG MENSTRUASI

Oleh Drs. Nur Mujib, MH.

(Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam)

Salah satu hikmah diturunkannya al-Qur’an secara berangsur-angsur antara lain adalah ayat al-Qur’an itu turun sebagai jawaban atas permasalahan yang terjadi pada waktu itu. Demikian juga turunnya ayat 222 surat al-Baqarah adalah berkaitan dengan pertanyaan orang-orang Yahudi kepada Nabi saw tentang menstruasi, yang menjadi sebab turunnya ayat tersebut.

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata: “Apabila wanita-wanita Yahudi sedang haidh, maka mereka (kaum lelaki) tidak mau memberinya makan, minum atau mengumpulinya di rumah. Maka mereka bertanya kepada Nabi saw tentang hal itu. Sehingga turunlah ayat 222 surat al-Baqarah: “Yas’aluunaka ‘anil mahidh, mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: "Haidh itu adalah suatu kotoran". Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

Kemudian Nabi saw memerintahkan kepada mereka agar tetap memberinya makan, minum dan berkumpul dengannya di rumah, juga supaya mereka berbuat segala sesuatu selain nikah (bersetubuh).

Orang-orang Yahudi sangat keterlaluan dalam menjauhi wanita sewaktu haidh. Mereka tidak memberinya makan, minum bahkan tidak memberinya tempat di satu rumah. Mereka menganggapnya seolah-olah sebagai penyakit, kotor dan menjijikkan. Di pihak lain, orang-orang Nasrani, terlalu memandang ringan. Bahkan mereka menyetubuhi isterinya, tidak peduli dalam keadaan haidh. Maka datanglah Islam dengan membawa garis tengah, berbuatlah segala sesuatu selain nikah (bersetubuh). Ini merupakan bukti alangkah bagusnya syariat Islam yang dibawakan oleh Islam, dimana ia memerintahkan kaum muslimin mengambil jalan tengah antara dua hal tersebut.

“Yas’aluunaka ‘anil mahidh, mereka bertanya kepadamu tentang haidh”. Mahidh adalah bahasa arab, berbentuk masdar mim dari kata haidh, yang berarti menstruasi. Kata mahidh juga merupakan isim zaman dan isim makan, kata yang menerangkan waktu dan kata yang menerangkan tempat, sehingga haidh artinya waktu haidh atau tempat mengalirnya darah haidh.

Allah menerangkan bahwa haidh adalah kotoran atau sesuatu yang kotor, oleh karena itu laki-laki diperintahkan untuk menjauhi haidh. Maksudnya bahwa ketika isterinya sedang dalam keadaan menstruasi, maka suami tidak boleh melakukan persetubuhan dengan isterinya. Baru boleh bersetubuh ketika isterinya itu sudah suci.

Para ulama berbeda pendapat dalam mengambil hukum pada firman Allah: “Fa’tazilun nisaa’a fil mahidh, oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh”.

Pendapat pertama menyatakan bahwa yang harus dijauhi ketika wanita dalam keadaan menstruasi adalah semua badan wanita itu. Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ubaidah as-Salmani. Pendapat ini berargumentasi bahwa Allah menyuruh menjauhi perempuan yang sedang menstruasi secara umum, tanpa mengkhususkan sesuatu darinya, yang mana yang harus dijauhi. Maka wajiblah menjauhi seluruh badan perempuan itu tanpa kecuali. “Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh”.

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang harus dijauhi ketika wanita dalam keadaan menstruasi adalah sesuatu antara pusat dan lutut. Pendapat ini adalah mazhab Abu Hanifah dan Imam Malik. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Siti Aisyah. Siti Aisyah berkata: “Aku mandi bersama Nabi saw pada satu bejana, dimana kami berdua sedang junub. Beliau memerintahku, maka aku memakai kain, lalu beliau menyentuh-nyentuh aku sedang aku dalam keadaan haidh” (HR Bukhari, Muslim dan at-Turmudzi). Juga beragumentasi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Maimunah. Maimunah berkata: “Rasulullah saw menyentuh isteri-isterinya diatas kain sedang mereka dalam keadaan haidh” (HR Bukhari Muslim).

Pendapat ketiga menyatakan bahwa yang harus dijauhi ketika wanita dalam keadaan menstruasi adalah hanya tempat kotorannya saja, yaitu vagina. Pendapat ini adalah mazhab Syafi’i. Imam Syafi’i berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda: “Berbuatlah segala sesuatu (ketika isterimu dalam keadaan haidh) kecuali bersetubuh”. Juga berdasarkan hadits riwayat Masruq. Masruq berkata: “Aku bertanya kepada Aisyah tentang apa yang dihalalkan bagi suami dari isterinya yang sedang haidh?, Aisyah menjawab: “Setiap sesuatu, kecuali bersetubuh”.

Selanjutnya dalam firman Allah, “janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu”, apa yang dimasud dengan “mereka suci” dan kapan suami boleh bersetubuh dengan isterinya?

Para ahli fikih berbeda pendapat dalam hal ini.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa yang dimaksudkan “mereka suci” adalah terhentinya darah haidh. Apabila darah telah berhenti, maka suami boleh menyetubuhi isterinya, walaupun isterinya belum mandi. Hanya saja darah tersebut telah berhenti setelah mencapai batas maksimal haidh, yaitu 10 hari. Apabila berhentinya haidh itu belum mencapai batas maksimal waktu haidh 10 hari, maka suami tidak boleh mencampuri isterinya sebelum isteri itu mandi atau masuk waktu shalat.

Jumhur al-Ulama (Malik, Syafi’i dan Ahmad) berpendapat bahwa yang dimaksud “meraka suci”, dimana suami boleh bersetubuh dengannya, adalah bersucinya isteri tersebut dengan air (mandi), seperti bersucinya orang junub. Dan isteri itu belum halal untuk disetubuhi sebelum berhenti haidh dan mandi dengan air.

Imam Thawus dan Mujahid memilih pendapat bahwa si isteri tersebut telah boleh untuk disetubuhi oleh suaminya setelah dia membasuh vaginanya dan wudhu sebagaimana untuk shalat.

Secara etimologi haidh berarti mengalir. Haidh atau menstruasi secara istilah adalah darah yang keluar dari vagina dalam keadaan sehat, bukan karena melahirkan, penyakit atau pecahnya selaput dara. Haidh menjadi tanda bahwa seorang gadis telah mencapai usia baligh yang mengakibatkannya terkena hukum-hukum taklif.

Para perempuan biasanya kedatangan haidh secara teratur waktunya. Ada yang sehari, dua hari, seminggu dan lain sebagainya. Biasanya kalau haidhnya sehari, bulan berikutnya juga sehari. Kalau haidhnya lamanya seminggu, bulan berikutnya juga seminggu dan seterusnya. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah ketika meminta fatwa kepada Rasululah saw tentang seorang perempuan yang sedang haidh. Rasulullah bersabda: “Suruh dia memperhatikan (hitungan) berapa malam dan hari kebiasaan dia haidh dalam sebulan, maka (ketika itu) suruh dia meninggalkan shalat. Kemudian suruh dia mandi dan meletakkan robekan kain pada vaginanya, lalu laksanakan shalat”. (HR Khamsah dan at-Turmudzi).

Ada beberapa larangan agama yang harus dijauhi oleh perempuan yang sedang dalam keadaan menstruasi. Perempuan yang sedang haidh dilarang (haram) melakukan beberapa perbuatan tertentu, yaitu : (1) shalat, baik shalat wajib maupun sunnah, (2) tawaf (haji), (3) membaca al-Qur’an, (4) berdiam diri di dalam masjid, (5) berpuasa, baik puasa wajib maupun sunnah, dan (6) bersetubuh.

Ketika isteri sedang menstruasi para suami dilarang berhubungan badan dengan isterinya itu kecuali isterinya telah berhenti haidh dan melakukan mandi junub. Wallahu a’lam bisshawab.

 

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai