Ketika Anak Perempuan Menghijab Saudara Kandung

 

KETIKA ANAK PEREMPUAN MENGHIJAB SAUDARA KANDUNG

Oleh : Drs. NUR MUJIB, MH.

(Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam)

Dalam ilmu faraid dinyatakan bahwa seorang ahli waris mendapatkan bagian warisan adakalanya dengan jalan mengambil bagian sebagai ahli waris dzawil furudl dan adakalanya mengambil bagian sebagai ahli waris ashabah.

Ahli waris dzawil furudl ialah ahli waris yang memperoleh bagian tertentu (al-furudl al-muqaddarah) dari harta waris, seperti 2/3, 1/2, 1/3, 1/4, 1/6 dan 1/8. Ahli waris dzawil furudl ada 11 orang, yaitu : 1. Duda mendapat ½ bila tidak ada anak dan mendapat ¼ bila bersama anak, 2. Janda mendapat ¼ bila tidak ada anak dan mendapat 1/8 bila bersama anak, 3. Ayah mendapat 1/6 bila ada anak dan mendapat 1/3 bila tidak ada anak, 4. Ibu mendapat 1/6 bila ada anak atau ada beberapa orang saudara dan mendapat 1/3 bila tidak ada anak atau tidak ada beberapa orang saudara, 5. Anak perempuan mendapat ½ bila seorang dan mendapat 2/3 bila dua orang atau lebih, 6. Cucu perempuan dari garis keturunan laki-laki mendapat ½ bila seorang dan mendapat 2/3 bila dua orang atau lebih, 7. Saudara perempuan sekandung mendapat ½ bila seorang dan mendapat 2/3 bila dua orang atau lebih, 8. Saudara perempuan seayah mendapat ½ bila seorang dan mendapat 2/3 bila dua orang atau lebih, 9. Saudara seibu (baik laki-laki maupun perempuan) mendapat 1/6, 10. Kakek shahih mendapat 1/6, dan 11. Nenek shahih mendapat 1/6.

Ahli waris ashabah ialah ahli waris yang menerima harta peninggalan tidak berdasarkan jumlah tertentu (al-furudl al-muqaddarah), akan tetapi menerima sisa harta peninggalan setelah dibagikan terlebih dahulu kepada ahli waris dzawil furudl. Ahli waris ashabah terdiri dari ashabah binafsih (menjadi ashabah dengan sendirinya), ashabah bil ghair (menerima sisa harta waris karena perantara yang lain) dan ashabah ma’al ghair (menerima sisa harta waris beserta yang lain).

Hijab adalah mencegah para ahli waris dari mendapat harta warisan, baik keseluruhannya atau sebagiannya, karena terdapat orang yang lebih utama untuk memperoleh warisan. Hijab ada dua macam, yaitu hijab hirman dan hijab nuqshan. Hijab hirman, yakni menghijab dari semua harta waris karena terdapat ahli waris lain yang lebih berhak. Seperti terhijabnya kakek karena adanya bapak, terhijabnya cucu karena adanya anak laki-laki. Hijab nuqshan, yakni ahli waris yang berhak menerima harta warisan sebagai ahli waris dzawil furudl, tetapi ia tidak mendapatkan bagiannya secara maksimal, melainkan yang minimal karena ada ahli waris lain. Seperti terhijabnya ibu dari mendapat 1/3 bagian menjadi mendapat 1/6 bagian karena orang yang meninggal dunia mempunyai anak keturunan yang menjadi ahli waris. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah seorang anak perempuan dapat menghijab saudara kandung pewaris?.

Kewarisan anak tercantum dalam surat an-Nisa’ ayat 11: “Allah mensyari'atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan”. Kata anak-anakmu dalam ayat tersebut mencakup pengertian anak laki-laki dan anak perempuan.

Selanjutnya apakah anak perempuan bisa menghijab saudara pewaris. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat, terutama dikaitkan dengan firman Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 176, yang terkenal dengan ayat kalalah: “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak”.

Menurut jumhur ulama pengertian anak dalam ayat tersebut adalah khusus anak laki-laki, dalam arti tidak mencakup anak perempuan. Dengan demikian keberadaan anak perempuan tidak menghijab saudara kandung pewaris.

Sementara itu Ibnu Abbas berpendapat bahwa anak dalam ayat tersebut mencakup anak laki-laki dan anak perempuan. Alasannya antara lain adalah kata anak “walad” dipakai oleh al-Qur’an bukan untuk anak laki-laki saja tetapi juga dipakai untuk anak perempuan. Misalnya dalam surat an-Nisa’ ayat 11 sebagaimana tersebut diatas”.

Sejalan dengan pengertian ayat tersebut maka pengertian anak dalam ayat 176 an-Nisa” tersebut juga mencakup anak laki-laki dan anak perempuan. Menurut pengertian ini, baik anak laki-laki atau anak perempuan, menghijab saudara kandung pewaris dari mendapat harta warisan.

Pengertian kalalah ialah seorang meninggal tanpa memiliki ayah ataupun keturuan atau dengan kata lain dia tidak mempunyai pokok dan cabang. Kata kalalah diambil dari kata “al-kalla” yang bermakna lemah, kata ini misalnya digunakan dalam “kalla ar-rajulu” yang artinya apabila orang itu lemah dan hilang kekuatannya. Ulama sepakat (Ijma’) bahwa kalalah “ialah seseorang mati namun tidak mempunyai ayah dan keturunan”.

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) kewarisan kalalah ini ditampung dalam pasal 181 dan 182.

Pasal 181 KHI: “Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, maka saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu masing-masing mendapat seperenam bagian. Bila mereka itu dua orang atau lebih maka mereka bersama-sama mendapat sepertiga bagian”.

Pasal 182 KHI: “Bila seorang meninggal tanpa meninggalkan anak dan ayah, sedang ia mempunyai satu saudara perempuan kandung atau seayah, maka ia mendapat separoh bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara perempuan kandung atau seayah dua orang atau lebih, maka mereka bersama-sama mendapat dua pertiga bagian. Bila saudara perempuan tersebut bersama-sama dengan saudara laki-laki kandung atau seayah, maka bagian saudara laki-laki dua berbanding satu dengan saudara perempuan.

KHI tidak secara jelas mengatur anak perempuan dapat menghijab saudara. Hanya saja dengan ketentuan pasal 181 dan 182 KHI ini, kewarisan saudara baru terbuka apabila pewaris tidak meninggalkan anak. Anak disebut secara umum, jadi bisa ditafsirkan anak laki-laki maupun anak perempuan. Jadi bila pewaris meninggalkan anak perempuan sebagai ahli warisnya maka kewarisansaudara menjadi terhijab (terhalang).

Mahkamah Agung berpendapat selama masih ada anak laki-laki maupun perempuan maka hak waris dari orang-orang yang mempunyai hubungan darah dari pewaris kecuali orang tua, suami dan isteri, menjadi tertutup (terhijab). Bahwa pendapat ini juga sejalan dengan pendapat Ibnu Abbas sebagai salah seorang ahli Tafsir di kalangan sahabat Nabi dalam menafsirkan kata “walad” pada ayat 176 Al Qur'an surat an-Nisa’ yang berpendapat pengertian “walad” mencakup baik anak laki-laki maupun anak perempuan. Dan pendapat inilah yang sekarang dipegangi oleh Mahkamah Agung. Hal ini dapat dilihat dalam putusan kasasi Mahkamah Agung RI antara lain No. 86 K/AG/1994 tanggal 20 Juli 1955, No. 122 K/AG/1995 tanggal 30 April 1996, dan No. 184 K/AG/1995 tanggal 30 September 1996. Wallahu ‘alam bisshawab.

 

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai