Ketika Anak Angkat Diakui Sebagai Anak Kandung

 

KETIKA ANAK ANGKAT DIAKUI SEBAGAI ANAK KANDUNG

Oleh : Drs. NUR MUJIB, MH.

(Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam)

Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam pasal 171 huruf (h) mendefinisikan anak angkat sebagai “anak yang dalam pemeliharaan untuk hidupnya sehari-hari, biaya pendidikan dan sebagainya beralih tanggung jawabnya dari orang tua asal kepada orang tua angkatnya berdasarkan putusan Pengadilan”.

Dengan definisi tersebut diatas perlu digaris bawahi bahwa hubungan hukum antara orang tua angkat dengan anak angkatnya hanya mengenai tanggung jawab pemeliharaan hidup sehari-hari berpindah dari orang tua kandung kepada orang tua angkatnya. Hanya itu saja. Sedang hubungan nasab, hubungan kewarisan dan hubungan perwalian tidak ada perobahan, tetap sama seperti sebelum adanya pengangkatan anak. Kemahraman dan kewarisan anak angkat tetap bersambung dengan orang tua kandungnya. Sedang dengan orang tua angkat hubungan kemahraman dan kewarisan tetap sebagai orang lain, bila orang tua angkatnya itu bukan dari keluarga anak angkat.

Untuk mengangkat anak haruslah berdasarkan putusan pengadilan. Artinya orang yang kebetulan tidak mempunyai anak kandung, atau mempunyai anak kandung tetapi bermaksud juga untuk mempunyai anak angkat seharusnya mengajukan permohonan anak angkat ke pengadilan supaya pengangkatan anaknya itu berkekuatan hukum. Kalau sudah dengan putusan pengadilan, maka sudah mempunyai bukti yang kuat.

Ada perbedaan yang mendasar dalam pengangkatan anak menurut BW dan menurut Islam. Menurut BW pengangkatan anak menjadikan putus hubungan sama sekali antara anak dengan orang tua kandungnya dan anak angkat itu masuk dalam keluarga orang tua angkatnya serta statusnya sama dengan anak kandung orang tua angkatnya. Ia menjadi anak dari orang tua angkatnya dan putus hubungan darah dengan orang tua kandungnya. Ia mendapat warisan sama dengan anak kandung orang tua angkatnya dan putus hubungan waris dengan orang tua kandungnya.

Islam tidak membenarkan pengangkatan anak yang demikian. Islam melarang mengambil anak orang lain untuk diberi status anak kandung sehingga ia berhak memakai nasab orang tua angkatnya dan mewarisi harta peninggalannya dan hak-hak lainnya sebagai hubungan anak dengan orang tua. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Surah al-Ahzab ayat 40 : “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.”

Sebagaimana kita ketahui sebelum nabi Muhammad diutus sebagai Rasulullah, dahulu ia mempunyai seorang anak angkat yaitu Zaid Bin Haritsah. Waktu itu karena anak angkat dihukumi sebagai anak kandung, maka Zaid itupun dipanggil oleh orang banyak dengan panggilan Zaid Bin Muhammad, sampai kemudian turun ayat diatas yang membatalkan anak angkat sebagai anak kandung, dan tetaplah Zaid dipanggil dengan Zaid Bin Haritsah. Sejak itu anak angkat tetap menjadi anak kandung orang tua biologisnya, hanya pemeliharaan dan biaya hidup sehari-harinya beralih kepada orang tua angkatnya.

Ada perbuatan buruk yang dilakukan sementara orang ketika akan mengangkat anak. Ketika akan mengangkat anak, calon orang tua angkat mengupayakan bahwa surat menyurat yang berhubungan dengan kelahiran anak angkat diurus dengan menggunakan nama orang tua angkatnya. Semua surat menyurat tentang kelahiran anak angkat itu dibuat sedemikian rupa, seolah-olah adalah anak kandung dari orang tua angkatnya. Sampai dalam akta kelahiran anak angkat itu dan ijasah-ijasahnya ditulis sebagai anak kandung orang tua angkatnya. Misalnya calon anak angkat itu adalah Fatimah, anak kandung dari Abdullah dan Maemunah. Tetapi dalam surat-surat yang berkaitan dengan kelahiran Fatimah itu ditulis bukan anak dari Abdullah dan Maemunah, tetapi langsung ditulis dengan nama orang tua angkatnya, misalnya Fatimah anak dari Muhammad dan Zaenab.

Perbuatan semacam ini mungkin dipandang sepele oleh orang tua angkatnya, hanya masalah administrasi saja. Masalahnya bukan sebatas hanya administrasi saja, tetapi berkaitan dengan nasab, kemahraman, kewarisan dan perwalian seseorang yang harus dikaitkan dengan orang tua kandung. Perbuatan semacam ini merupakan kebohongan yang sangat dilarang dalam Islam. Islam mengatur bahwa penyebutan anak itu tidak bisa dibangsakan kepada orang lain yang bukan ayahnya. Penyebutan seorang anak hanya dibenarkan digandengkan dengan ayah kandungnya. Harus menyebut Bin atau Binti ayah kandungnya. Tidak bisa disebut dengan Bin atau Binti ayah angkatnya. Allah berfirman dalam surat al-Ahzab ayat 5: “Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah”. Memanggil anak angkat dengan membangsakan kepada bapak angkatnya adalah kebohongan, dosa besar.

Diriwayatkan dari Saad Bin Abi Waqas bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang mengakui (bapak) yang bukan bapaknya sendiri, atau membangsakan maula yang bukan maulanya sendiri, maka ia akan mendapatkan kutukan Allah swt, Malaikat dan seluruh manusia. Allah tidak berkenan menerima taubat dan tebusannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Rasululah bersabda: “Tiada seorang laki-laki yang mengakui bapak yang bukan bapaknya sendiri sedangkan ia mengetahui (hal itu), melainkan dia telah kufur”. (HR Bukhari dan Muslim).

Rasulullah bersabda: “Barang siapa mengakui bapak yang bukan bapaknya sendiri, sedangkan ia mengetahui bahwa ia bukan bapaknya, maka surga haram baginya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Sungguh sangat fatal akibat orang yang membangsakan seorang anak bukan dengan ayah kandungnya tetapi dengan orang tua angkatnya. Dalam hadits-hadits diatas, orang yang membangsakan anak dengan orang yang bukan ayah kandungnya akan mendapat kutukan Allah, Malaikat dan seluruh manusia dan Allah tidak menerima taubat dan tebusannya, juga ia dikatakan telah kufur dan surga haram baginya. Masyaallah, na’udzubillah min dzalik.

Bagaimanapun dekatnya hubungan antara anak angkat dengan orang tua angkatnya, tetap saja orang tua angkat adalah orang lain, tidak bisa menggantikan kedudukan orang tua kandung. Ketika ia menikah haruslah berwali dengan orang tua kandungnya. Ketika membagi waris juga hanya berhubungan dengan orang tua kandungnya. Anak angkat tidak bisa menjadi ahli waris orang tua angkatnya. Demikian juga sebaliknya, orang tua angkat tidak bisa menjadi ahli waris anak angkatnya.

Dalam hukum kewarisan, sesuai dengan ketentuan pasal 209 KHI kalau orang tua angkat meninggal dunia, maka anak angkat akan mendapat wasiat wajibat. Demikian juga kalau anak angkat meninggal dunia maka orang tua angkatnya akan mendapat wasiyat wajibat.

Makna “wasiat wajibah” adalah seseorang dianggap menurut hukum telah menerima wasiat meskipun tidak ada wasiat secara nyata. Anggapan hukum itu lahir dari asas apabila dalam suatu hal hukum telah menetapkan harus berwasiat, maka ada atau tidak ada wasiat dibuat, wasiat itu dianggap ada dengan sendirinya.

Kalau anak angkat itu anak perempuan, maka ketika ia menikah haruslah berwalikan ayah kandungnya, tidak bisa berwalikan ayah angkatnya. Kalau dalam akta kelahiran anak angkat itu sudah terlanjur dibuat ayahnya adalah ayah angkatnya, maka tetap saja ayah angkat tidak bisa menjadi wali nikah anak angkatnya. Kalau anak perempuan menikah dengan wali nikah ayah angkatnya, maka pernikahannya batal, pernikahannya tidak sah. Wallahu ‘alam bisshawab.

 

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai