Menunggu Datangnya Malam “Lailat” Al-Qadar

Oleh: Drs. Nur Mujib, M.H.

Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam Kelas IB

Kita sedang berada di bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, penuh maghfirah dan bulan pembebasan dari api neraka. Bulan Ramadhan memiliki sekian banyak keistemewaan, salah satunya adalah di bulan Ramadhan itu ada malam yang dikenal dengan “lailat al-qadar”, suatu malam yang oleh Al Qur’an dinilai lebih baik dari seribu bulan. Lailat al-qadar itu adanya dalam bulan Ramadhan. Disebutkan dalam Al Qur’an surat Al Qadar ayat 1-3 : “Sesungguhnya kami menurunkan Al Qur’an itu pada malam qadar. Apakah kamu tahu apakah malam qadar itu? Malam qadar adalah suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan”. Malam lailat al-qadar sering juga disebut malam seribu bulan.

Seribu bulan itu sama dengan 83,3 tahun. Satu malam qadar lebih baik daripada 83,3 tahun. Di malam lailat al qadar, beribadah 1 kali itu lebih baik daripada beribadah selama 83,3 tahun, di luar malam lailat al qadar, sungguh suatu keistimewaan yang luar biasa. Barang siapa yang berjumpa dengan lailat al qadar dan melakukan ibadah didalamnya, sungguh merupakan keuntungan yang luar biasa. Oleh karena itu banyak kaum muslimin yang menunggu dengan penuh harap akan berjumpa dengan malam lailat al qadar.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Al Qur’an diwahyukan pertama kali kepada Rasulullah, menurut riwayat yang masyhur, adalah pada tanggal 17 Ramadhan ketika Rasulullah bertahanus, beriktikaf di goa Hira’. Malam tanggal 17 Ramadhan ini kemudian dikenal sebagai malam nuzul Al Qur’an dan selalu diperingati oleh kaum muslimin sebagai malam diturunkannya wahyu Al Qur’an pertama kali kepada Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini direkam dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 185 : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk (antara yang hak dan yang bathil)”. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa malam qadar itu adalah malam tanggal 17 Ramadhan, ketika surat Iqra’ ayat 1 sampai ayat 5 diwahyukan kepada Rasulullah. Pertanyaannya adalah apakah malam “lailat al-qadar” masih tetap ada pada setiap bulan Ramadhan?

Ibnu Hajar Al Asqalani, seorang pakar hadits, menyebutkan satu riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah saw pernah bersabda, bahwa malam qadar sudah tidak akan datang lagi. Pendapat ini dapat diterima apabila yang dimaksudkan adalah malam qadar sebagai malam diturunkannya Al Qur’an, karena Al Qur’an sudah paripurna diwahyukan semuanya kepada Nabi Muhammad ra, maka sudah tidak ada lagi malam qadar dimana Al Qur’an diwahyukan. Tetapi untuk apa Al Qur’an menyatakan malam qadar itu lebih baik dari seribu bulan dan untuk apapula Rasulullah mengajurkan ummatnya agar mencari malam qadar itu dan Rasulullah sendiri memberi contoh dengan melakukan ibadah dan menyuruh keluarganya untuk menegakkan ibadah, kalau lailat al-qadar itu ternyata sudah tidak ada lagi.

Pendapat tersebut ditolak oleh mayoritas ulama, karena menurut teks Al Qur’an dan sekian banyak teks hadits yang menunjukkan bahwa lailat al-qadar terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Bahkan Rasulullah saw menganjurkan ummatnya untuk mempersiapkan jiwa menyambut malam mulia itu, secara khusus pada malam-malam ganjil setelah berlalu dua puluh Ramadhan.
Memang Al Qur’an diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw lima belas abad yang lalu terjadi pada malam lailat al-qadar, di goa hira’, ketika beliau bertahanus, tetapi bukan berarti bahwa ketika itu saja malam seribu bulan yang mulia itu hadir. Ini juga berarti bahwa kemulian malam itu bukan hanya disebabkan karena ketika Al Qur’an itu diwahyukan, tetapi juga karena adanya faktor intern pada malam itu sendiri.

Pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, kita dianjurkan untuk mencari malam lailat al-qadar, karena malam itu adalah malam yang penuh kemulyaan, penuh keberkahan, penuh keagungan dan penuh keutamaan, yang diharapkan dapat dikabulkannya doa-doa. Malam itu adalah seutama-utama malam bahkan lebih utama dari semua malam termasuk malam Jum’at. Menegakkan malam qadar dengan memperbanyak kebaikan itu lebih baik daripada melaksanakannya seribu malam pada malam yang lain. Rasulullah bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i : “Barang siapa yang menegakkan lailat al-qadar dengan penuh keimanan dan ihtisaban akan diampuni dosanya yang telah lalu. Diriwayatkan oleh A’isyah ra bahwa Nabi Muhammad saw apabila masuk sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan baginda Nabi saw menghidupkan malamnya dengan beribadah dan membangunkan keluarganya untuk bersama-sama beribadah.

Patut diduga bahwa lailat al-qadar itu adanya pada malam-malam ganjil sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Dugaan ini diperkuat oleh sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari sahabat Abi Said Al Khudzri : “Carilah malam “lailat” qadar itu pada sepuluh akhir bulan Ramadhan, yaitu pada malam ganjil”.

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kapan lailat al-qadar itu terjadi. Menurut riwayat, Ubay Bin Ka’ab pernah menyatakan sebagaimana diriwayatkan oleh At Tirmidzi : “Demi Allah sesungguhnya Ibnu Mas’ud telah memberitahu bahwa lailat al-qadar itu adanya di bulan Ramadhan dan itu terjadi pada malam ke dua puluh tujuh, akan tetapi dia enggan memberitahu kepada kami karena membimbangkan kepada kami untuk tidak lagi berusaha mencarinya. Menurut Muawiyah, yang diriwayatkan secara marfu’, bahwa Nabi saw bersabda tentang lailat al-qadar, yaitu jatuh pada malam ke dua puluh tujuh Ramadhan (HR Abu Dawud). Ibnu Hajar Al Asqalani, seorang pakar hadits, dalam kitabnya Fath Al-Barri, menyatakan bahwa telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang kepastian kapan terjadinya lailat al-qadar itu dalam 40 pendapat, dan pendapat yang palih rajih (dapat dipercaya) dari pendapat-pendapat tersebut adalah bahwa lailat al-qadar itu terjadi pada malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.

Lalilat al-qadar adalah malam eksklusif, malam istimewa, yang Allah anugerahkan kepada kita untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya. Saat itulah Allah memberikan dispensasi, menerima segala permohonan kita di luar hukum perhubungan antara Allah dengan hambanya sebagaimana berlaku pada hari-hari biasa. Sungguh ini tidak mustahil bagi Allah. Sedang dalam kehidupan bernegara saja, Presiden dapat memberikan apa yang namanya grasi, amnesti, remisi dan pengampunan kepada narapidana. Presiden saja bisa memberikan sebuah keringanan atau keampunan kepada manusia, apalagi Allah yang menciptakan presiden. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Begitu eksklusifnya lailat al-qadar itu sehingga dianjurkan ummat Islam untuk memperbanyak beribadah didalamnya, memanjatkan doa dan permohonan, memohon ampun atas segala kesalahan. Adapun doa yang dianjurkan untuk dibaca pada lailat al-qadar itu adalah “Allahumma innaka ‘afwun, tuhibbu ‘l ‘afwa fa’fu anni”. Doa ini sebagaimana diriwayatkan oleh A’isyah ra, beliau bertanya kepada Nabi saw : “ Ya Rasulallah ! bagaimana sekiranya aku berjumpa dengan lailat al-qadar, doa apa yang aku baca pada lailat al-qadar itu ? Rasulullah menjawab : “ Ucapkan olehmu doa, “Allahumma innaka ‘afwun, tuhibbu ‘l ‘afwa fa’fu anni. Allahumma ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Engkau menyenangi pengampunan, maka ampunilah dosa-dosaku”. Wallahu a’lam bisshawab.

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai