Penentuan Hari Raya Iedul Fithri 1435 Hijriyah (Awal Syawal 2014)

Oleh: Drs. Nur Mujib, M.H.

Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam Kelas IB

Penentuan hilal bulan syawal adalah salah satu aktivitas penting yang dilakukan untuk menentukan hari terakhir pada bulan Ramadan. Hal ini akan menentukan kapan ummat muslim terakhir melakukan puasa dan merayakan iedul fithri.

Sekarang kita berada pada bulan suci Ramadhan 1433 H, bulan dimana Al Qur’an pertama kali diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, bulan dimana ummat Islam diwajibkan berpuasa sebulan penuh. Sudah barang tentu ummat Islam telah menyambut kedatangan bulan Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Tentang perintah puasa Rasulullah bersabda : “Berpuasalah kamu semua karena melihat hilal bulan Ramadhan dan berbukalah kamu semua karena melihat hilal bulan Syawal, apabila kamu terlindung tidak bisa melihat hilal bulan Ramadhan, maka sempurnakanlah bilangan bulan Syakban menjadi 30 hari”, dalam riwayat lain dinyatakan, “apabila kamu terlindung tidak bisa melihat hilal bulan Ramadhan, maka perkirakanlah bulan Ramadhan itu”.

Dalam perintah Rasulullah tersebut dapat diketahui bahwa perintah untuk berpuasa itu dikaitkan dengan telah melihat (rukyat) hilal bulan Ramadhan dan perintah untuk berbuka (lebaran) karena melihat hilal bulan syawal. Pengertian melihat (rukyat) hilal itu dapat diperoleh dengan 2 cara, yaitu melihat dengan mata kepala (rukyat) dan melihat dengan perhitungan (hisab).

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah terjadinya ijtimak. Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Aktivitas rukyat dilakukan pada saat menjelang terbenamnya matahari pertama kali setelah terjadi ijtimak (pada waktu ini, posisi bulan berada di ufuk barat, dan bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari). Apabila hilal terlihat, maka pada petang (maghrib) waktu setempat telah memasuki tanggal 1 bulan hijriyah.

Ijtimak (berasal dari bahasa Arab), atau disebut pula konjungsi geosentris, adalah peristiwa dimana bumi dan bulan berada di posisi bujur langit yang sama, jika diamati dari bumi. Ijtimak terjadi setiap 29,531 hari sekali, atau disebut pula satu bulan sinodik. Pada saat sekitar ijtimak, bulan tidak dapat terlihat dari bumi, karena permukaan bulan yang nampak dari bumi tidak mendapatkan sinar matahari, sehingga dikenal istilah bulan baru. Pada petang pertama kali setelah ijtimak, bulan terbenam sesaat sesudah terbenamnya matahari. Ijtimak merupakan pedoman utama penetapan awal bulan dalam kalender hijriyah.
Untuk melihat hilal bulan Syawal sudah muncul atau belum itu tergantung apakah pada tanggal 29 Ramadhan hilal bulan Syawal sudah dapat dilihat atau belum. Kalau sudah dapat dilihat maka esuknya adalah tanggal 1 Syawal, tetapi kalau belum dapat dilihat, maka hari berikutnya adalah tanggal 30 Ramadhan. Cara ini dikenal dengan metode rukyat dan digunakan oleh organisasi Nahdlatul Ulama dan Pemerintah RI.

Hisab secara harfiah berarti perhitungan. Dalam dunia Islam istilah hisab sering digunakan dalam ilmu falak (astronomi) untuk memperkirakan posisi matahari dan bulan terhadap bumi. Posisi matahari menjadi penting karena menjadi patokan umat Islam dalam menentukan masuknya waktu shalat. Sementara posisi bulan diperkirakan untuk mengetahui terjadinya hilal sebagai penanda masuknya periode bulan baru dalam kalender hijriyah.

Melihat dengan hisab (perhitungan} yaitu dengan menggunakan perhitungan astronomi bahwa hilal (bulan sabit muda, new moon) sudah diatas ufuk atau belum. Keteraturan peredaran bulan dalam mengelilingi bumi juga bumi dan bulan dalam mengelilingi matahari memungkinkan manusia untuk mengetahui penentuan waktu. Salah satunya adalah penentuan awal bulan hijriyah, yang didasarkan pada peredaran bulan mengelilingi bumi. Dengan cara ini dapat diketahui bahwa bulan baru “new moon” sudah terbit atau belum. Cara ini dikenal dengan metode hisab.

Pemerintah RI menggunakan metode hisab ini sebagai dasar untuk melakukan kegiatan rukyat al hilal dan melalui pertemuan Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menetapkan kriteria yang disebut “imkanurrukyat” yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan pada kalender Islam, yang menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1). Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan (2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau (3). Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 atau bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1435 H versi pemerintah, secara hisab ijtimak terjadi pada jam 05:43 WIB (Ijtimak qobla al ghurub), dan pada saat matahari terbenam pada hari itu hilal sudah wujud. Matahari terbenam lebih dahulu baru disusul bulan. Tinggi bulan pada saat matahari terbenam hari itu diperkirakan sekitar 03°5’. Karena tinggi hilal sudah melebihi criteria yang ditentukan, yaitu diatas 2°, maka tanggal 1 syawal 1435 H sudah dapat ditetapkan, yaitu jatuh pada hari Senin tanggal 28 Juli 2014. Pemerintah Indonesia akan melakukan kegiatan rukyat pada hari Ahad 27 Juli 2014. Kalau seandainya dalam rukyat itu hilal tidak terlihat, biasanya pemerintah tetap akan menetapkan hari berikutnya sebagai tanggal 1 Syawal karena kriteria hilal pada hari itu secara hisab sudah diatas 2°.

Muhammadiyah termasuk organisasi yang menggunakan metode hisab dengan teori wujudul hilal, maka Muhammadiyah menetapkan awal bulan ramadhan 1435 hijriyah jatuh pada hari Sabtu tanggal 28 Juni 2014, walaupun tinggi hilal di seluruh wilayah Indonesia baru sekitar 0º31’17” diatas ufuk. Memang secara hisab hilal sudah wujud tetapi belum bisa dilihat dengan mata kepala atau menggunakan teleskop.
Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) menggunakan kriteria yang dinamakan "Hisab Hakiki Wujudul Hilal". Kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan hijriyah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria berikut: 1) telah terjadi ijtimak (konjungsi), 2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan 3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai.

Bahwa pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 atau bertepatan dengan tanggal 29 Ramadhan 1435 H versi pemerintah, organisasi Muhammadiyah telah melakukan puasa ramadhan sebanyak 30 hari, oleh karena itu tanpa harus melihat hilal bulan Syawal 1435 H atau tanpa harus melakukan hisab, maka Muhammadiyah akan mengakhiri ibadah puasanya berbarengan dengan pemerintah dan merayakan iedul fithri pada hari Senin tanggal 28 Juli 2014, karena tidak mungkin lagi bagi Muhammadiyah untuk melalukan ibadah puasa Ramadhan, karena pada tanggal 27 Juli 2014 Muhammadiyah sudah melakukan ibadah puasa ramadhan selama 30 hari. Untuk diketahui bahwa umur bulan hijriyah itu ada kalanya 29 hari dan ada kalanya 30 hari, tidak ada yang berumur 31 hari.

Dari uraian singkat diatas dapat disimpulkan bahwa baik yang menggunakan metode hisab “hisab hakiki wujudul hilal” atau yang menggunakan metode rukyat “imkanurrukyat”, akan sama dalam merayakan iedul fithri 1435 H/lebaran 2014 M, yaitu pada hari Senin tanggal 28 Juli 2014.

Keputusan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 2 Tahun 2004 tertanggal 24 Januari 2004 M, antara lain menetapkan bahwa : “Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah dilakukan berdasarkan metode rukyah dan hisab oleh Pemerintah RI cq Menteri Agama dan berlaku secara nasional dan “Seluruh umat Islam di Indonesia wajib mentaati ketetapan Pemerintah RI tentang penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah”. Untuk itu kita tunggu saja ketetapan pemerintah tentang awal bulan Syawal 1435 H/2014 M. Wallahu a’lam bisshowab.

 

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai