Posisi Hilal Awal Syawal 1435H di Kota Medan

Oleh: Drs. Nur Mujib, M.H.

Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam Kelas IB

Kota Medan adalah Kotamadya tingkat II yang sekaligus adalah ibu kota propinsi Sumatera Utara. Secara geografis kota Medan terletak pada 98°40,60’ Bujur Timur dan 3°33,70’ Lintang Utara. Untuk menentukan posisi hilal (bulan baru, new moon) awal Syawal 1435 H, tidak terlepas dari posisi hilal pada tanggal 29 Ramadhan, apakah pada tanggal tersebut hilal bulan Syawal sudah wujud atau belum.

Hilal adalah bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadinya konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah dekat matahari terbenam yang menjadi acuan permulaan bulan dalam kalender hijriyah. Biasanya hilal diamati pada hari ke-29 dari bulan berjalan untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum. Hilal juga merupakan bagian dari fase - fase bulan. Dalam menetapkan awal bulan hijriyah, termasuk dalam menetapkan awal Ramadhan dan awal Syawal, terdapat setidaknya dua teori yang sering berbeda hasilnya. Yaitu teori hisab dan teori rukyat.

Teori hisab memegangi perhitungan secara astronomi bahwa awal bulan baru hijriyah sudah terjadi apabila secara perhitungan (hisab) pada tanggal 29 bulan berjalan hilal sudah wujud diatas ufuk, walaupun secara mata telanjang hilal belum dapat dilihat. Teori hisab juga sering disebut teori wujudul hilal.

Teori rukyat memegangi bahwa awal bulan hijriyah sudah wujud atau belum tergantung hilal sudah dapat dilihat oleh mata telanjang atau belum pada tanggal 29 bulan berjalan. Kalau hilal sudah dapat dilihat maka esuk harinya adalah bulan baru. Kalau hilal belum dapat dilihat maka esuk harinya adalah tanggal 30 bulan berjalan.

Penganut teori hisab “wujudul hilal” selalu terpaku pada pendirian asal menurut perhitungan astronomi hilal sudah wujud (berada diatas ufuk), maka hari berikutnya adalah tanggal satu bulan baru, terlepas apakah hilal baru itu sudah imkanurrukyat (memungkinkan untuk dilihat), dapat dilihat mata telanjang, atau belum dapat dilihat. Sementara itu penganut teori rukyat sering memadukan dengan teori hisab, dalam arti bahwa teori hisab itu digunakan untuk membantu menentukan posisi hilal ketika rukyat hilal dilaksanakan. Apabila secara hisab hilal sudah wujud, tetapi secara visual tidak dapat dilihat oleh mata telanjang, maka dipadukan dengan teori “imkanurrukyat”, yaitu dibuat patokan dalam posisi minimal berapa derajat diatas ufuk hilal baru dianggap dapat dilihat atau hilal visibel. Kalau posisi “imkanurrukyat” itu sudah terpenuhi, maka esuk harinya adalah bulan baru, walaupun hilal tidak berhasil dirukyat. Pemerintah RI dalam menetapkan awal bulan baru menggunakan teori hisab dan teori rukyat sekaligus.

Pemerintah RI menggunakan sistem hisab yang mengacu kepada sistem hisab hakiki kontemporer yang berpedoman pada ufuk mar’i. Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut “imkanurrukyat” yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan pada kalender Islam, yang menyatakan bahwa hilal dianggap terlihat dan keesokan harinya ditetapkan sebagai awal bulan hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut : (1). Ketika matahari terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan (2). Jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau (3). Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku.

Penggunaan kriteria Imkanur rukyat 2° ini didasarkan pada keberhasilan bahwa hilal awal Syawal 1424 H yang ketinggiannya sekitar 2° dan ijtimak terjadi jam 10.18 WIB, pada tanggal 29 Juni 1984, dapat dilihat oleh:

  1. Muhammad Arief, 33 tahun Panitera Pengadilan Agama Pare Pare
  2. Muhadir, 30 tahun Bendahara Pengadilan Agama Pare Pare
  3. H. Abdullah Hamid, 56 tahun Guru Agama Jakarta
  4. H. Abdullah, 61 tahun, guru Agama Jakarta
  5. K. Ma’mur, 55 tahun, Guru Agama Sukabumi
  6. Endang Effendi, 45 tahun, Hakim Agama Sukabumi.

Di kota Medan pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014 (tanggal 30 Ramadhan versi hisab wujudul hilal), ijtimak terjadi pada 05.42 WIB, yaitu ketika nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama di 123,863°. Ijtimak atau konjungsi adalah peristiwa ketika bujur ekliptika bulan sama dengan bujur ekliptika matahari dengan pengamat di bumi. Pada saat konjungsi tersebut, jarak sudut matahari dan bulan (elongasi) adalah 4,910° (lebih dari 3°). Matahari terbenam di kota Medan pada tanggal 27 Juli 2014 diperkirakan terjadi pada jam 18.40 WIB disusul bulan akan terbenam pada jam 18.54 WIB. Pada saat matahari terbenam, tinggi bulan berada pada 2°39,61’ diatas ufuk.

Karena saat matahari terbenam telah terjadi ijtimak atau konjungsi (yang berlangsung pada jam 05.42 WIB). Fraksi Illuminasi sabit bulan muda mencapai sekitar 0,39 dengan usia sabit bulan mencapai lebih dari 13 jam. Pada kondisi tersebut semua kriteria yang ditetapkan oleh MABIMS telah terpenuhi, sehingga dengan demikian kriteria visibilitas hilal “imkanurrukyat” sebagai penentu awal bulan Syawal 1435 H telah visibel “wujud” sebesar + 2°39,61’ (lebih dari 2°) dengan umur bulan muda lebih dari 13 jam (lebih dari 8 jam) dari kriteria MABIMS. Maka sudah dapat dipastikan bahwa tanggal 1 Syawal 1435 H atau hari raya iedul fithri 2014 M akan jatuh pada hari Senin tanggal 28 Juli 2014, sehingga puasa Ramadhan bagi pengikut teori rukyat atau versi pemerintah akan berlangsung selama 29 hari.

Secara akademik bahwa bulan baru 1 Syawal 1435 H atau hari raya iedul fithri 2014 M H, baik yang menggunakan teori hisab “wujudul hilal” atau yang menggunakan teori rukyat, akan jatuh secara berbarengan yaitu pada hari Senin 28 Juli 2014. Akan tetapi hal itupun harus menunggu sampai ditetapkan oleh pemerintah dalam sidang itsbat penetapan awal Syawal 1435 H yang akan dipimpin oleh Menteri Agama RI yang akan dilaksanakan pada hari Ahad tanggal 27 Juli 2014.

Kalendar Taqwim Standard merupakan rujukan resmi pemerintah Republik Indonesia dan sekaligus kalendar rujukan bagi umat Islam Indonesia. Walaupun dalam kalendar tersebut dinyatakan awal Ramadhan 1435 H bertepatan dengan tanggal 29 Juni 2014 dan awal Syawal bertepatan dengan 28 Juli 2014, secara resmi keputusan penetapan awal bulan Ramadhan 1435 H dan awal bulan Syawal 1435H dilakukan dalam sidang itsbat yang dipimpin langsung oleh Menteri Agama. Pada sidang itsbat untuk menetapkan awal ramadhan 1435H, pemerintah telah menetapkan bahwa tanggal 1 Ramadhan 1435 H jatuh pada hari Ahad 29 Juni 2014. Dalam sidang itsbat tersebut pemerintah mempertimbangkan hasil hisab dan hasil rukyat umat Islam yang dikoordinasi atau diselenggarakan oleh Kementerian Agama, ormas Islam, cendekiawan Islam maupun komponen masyarakat Islam lainnya.

Visibilitas hilal sebagai acuan penetapan awal bulan hijriyah terdapat dualisme. Ada yang menggunakan teori wujudul hilal (hisab) dan ada yang menggunakan teori imkanurrukyat (rukyat). Adanya dua teori yang berbeda ini sering membuat hangat situasi silaturrahim pada masyarakat muslim apabila hasil penetapan awal bulan hijriyah tidak sama. Perbedaan permulaan bulan baru hijriyah selain bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah sering tidak begitu berpengaruh pada silaturrahim ummat muslim di Indonesia. Hanya pada penetapan bulan baru Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah yang sering mengusik rasa persatuan dan kesatuan umat Islam, terutama apabila lebarannya tidak bersamaan. Apakah dapat dimungkinkan untuk penyatuan kalender hijriyah bagi ummat Islam di negeri kita ini? Wallahu a’lam bisshawab.

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai