Menikah Siri Kemudian Menikah Lagi Di Kantor Urusan Agama (Kua) adalah Tindakan Yang Salah*

Oleh: Drs. Nur Mujib, M.H.

Ketua Pengadilan Agama Lubuk Pakam Kelas IB

Beberapa waktu yang lalu, baik di Layar Kaca (Televisi) maupun di Surat Kabar, ada berita bahwa Artis Krisna Mukti telah menikahi Devi Nurmayanti di Kantor Urusan Agama (KUA) Beji, Depok pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014 dan mempelai wanita sudah dalam keadaan hamil. Lihat harian Orbit edisi 1219, Jum’at 27 Juni 2014, hal 8. 

Tentu saja mereka berdua membantah telah menikah karena hamil duluan, karena sebelumnya mereka telah menikah secara sirri pada akhir Desember 2013. Dengan demikian pernikahan pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014 di KUA Beji itu hanya untuk pengesahan saja.

Krisna Mukti telah melakukan ijab kabul pernikahannya sebanyak 2 kali, yaitu ijab kabul pada pernikahan sirrinya di akhir Desember 2013 dan ijab kabul yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014. Lalu ijab kabul yang mana yang dipakai untuk memulai kehidupan rumah tangganya?

Kalau ijab kabul yang dilakukan pada akhir Desember 2013 itu sudah sah secara agama, maka untuk apa melakukan ijab kabul lagi pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014 itu. Sudah barang tentu merupakan perbuatan yang sia-sia. Kalau yang dianggap sah itu ijab kabul yang dilakukan di hadapan KUA Beji, Depok pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014, lalu hubungan suami isteri yang dilakukan Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti itu sebagai hubungan yang ilegal? Perbuatan zina?. Lalu kehamilan Devi Nurmayanti dari nikah sirrinya itu dianggap sebagai kehamilan yang tidak sah ? Yang dipermasalahkan adalah apakah tindakan Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti yang telah menikah secara sirri kemudian menikah lagi secara resmi itu merupakan tindakan yang benar menurut hukum?

Negara telah mengatur sedemikian rupa tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan perkawinan. Untuk sahnya suatu perkawinan telah diatur dalam ketentuan pasal 2 ayat (1) Undang Undang Perkawinan No. 1 tahun 1974 (selanjutnya disebut UUP), yang menyatakan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Selanjutnya pasal 2 ayat (2) menyatakan bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari ketentuan ini, maka dapat disimpulkan bahwa pernikahan bagi ummat Islam adalah sah apabila telah terpenuhi rukun dan syarat pernikahan secara agama sebagaimana diatur dalam fikih munakahat. Dalam praktek yang terjadi di tengah masyarakat, yang konon sangat kental dengan pengaruh madzhab Syafii, maka rukun perkawinan itu ada 5, yaitu ; (1) Adanya calon pengantin laki-laki, (2) Calon pengantin perempuan, (3) Wali Nikah, (4) Dua orang saksi, dan (5) Ijab Kabul. Kalau 5 rukun ini sudah ada dan masing-masing rukun itu telah memenuhi persyaratannya, maka perkawinan itu telah sah menurut hukum agama, dan berdasarkan ketentuan pasal 2 ayat (1) UUP, juga harus dianggap sah menurut hukum Negara. Akan tetapi supaya perkawinan itu mendapat pengakuan resmi dari negara, maka pernikahan itu harus dicatat menurut peraturan perundangan-undangan yang berlaku dan bagi ummat Islam maka instansi yang berwenang melakukan pencatatan pernikahan adalah Pegawai Pencatat Nikah pada Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan.

Sekarang kita ajukan pertanyaan?, apakah pernikahan sirri Krisna Mukti dengan Devi Nurmayanti pada akhir Desember 2013 telah memenuhi rukun dan syarat pernikahan secara agama (munakahat) atau belum. Kalau sudah memenuhi rukun dan syarat secara agama berarti pernikahan sirri pada akhir Desember 2013 itu sudah sah menurut negara sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat (1) UUP. Hanya saja pernikahan sirri itu tidak mendapatkan perlidungan hukum dari negara. Sebagaimana hal ini dinyatakan dalam pasal 6 ayat (2) KHI, bahwa perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. Karena tidak mendapatkan perlindungan hukum publik maka pernikahannya tidak akan diakui oleh negara, selanjutnya kalau ada anak, anak itu tetap anak sah tetapi tidak bisa dibuatkan Akta Kelahiran dari kedua orang tuanya. Akta kelahiran hanya atas nama anak dari ibunya.

Nah kalau pernikahan sirri Krisna Mukti dengan Devi Nurmayanti pada akhir Desember 2013 telah dilaksanakan sesuai ketentuan agama maka pernikahan sirri itu telah sah secara agama dan diakui sah juga oleh negara, untuk apa melakukan pernikahan lagi di hadapan KUA Beji pada tanggal 23 Juni 2014?

Sudah dapat dipastikan bahwa dalam akta pernikahan Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti pernikahannya tercatat dilakukan pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014 dan tidak tercacat dilaksanakan pada akhir Desember 2013. Sebabnya adalah bahwa KUA hanya akan mencatat peristiwa nikah yang dilaksanakan dihadapan dan dibawah pengawasannya dan KUA tidak bisa memberlakukan surut pada peristiwa pelaksanaan nikah sirri. Yang diawasi pernikahannya adalah yang dilakukan pada tanggal 23 Juni 2014 sedang yang dilakukan di akhir Desember 2013 tidak di bawah pengawasannya. Kalaulah dalam akta pernikahan Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti tercatat menikah di akhir Desember 2013, maka akta nikah itu batal demi hukum, karena KUA tidak mempunyai kewenangan memberlakukan surut peristiwa nikah. KUA hanya mempunyai kewenangan mencatat pernikahan yang dilakukan di hadapannya dan dalam pengawasannya. Jadi tindakan yang dilakukan oleh Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti yang melakukan nikah di KUA Beji, Depok itu adalah tindakan yang tidak benar menurut hukum. Lalu yang benar yang bagaimana?

Supaya mendapatkan perlindungan hukum kembali, maka orang yang sudah pernah melakukan nikah sirri harus mengajukan pengesahan nikah (itsbat nikah) ke Pengadilan Agama (PA). Kalau nikah sirrinya itu nanti sudah mendapatkan penetapan oleh PA sebagai pernikahan yang sah dan sahnya pernikahan itu berlaku surut sejak pernikahan siriinya dilakukan bukan sejak pernikahannya dinyatakan sah oleh Pengadilan. Selanjutnya yang bersangkutan kemudian membawa penetapan PA tersebut ke KUA Kecamatan dan mencatatkan pernikahannya itu untuk mendapatkan Buku Kutipan Akta Nikah.
Jadi yang harus dilakukan oleh Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti adalah mengajukan itsbat nikah (pengesahan nikah) secara volunter ke PA dimana nikah sirrinya itu dilakukan dan mengajukan bukti-bukti bahwa pernikahan sirrinya itu telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan syarat dan rukun menurut hukum Islam. Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti bertindak sebagai para Pemohon. Kalau ternyata oleh PA, pernikahan sirinya itu dinyatakan telah memenuhi rukun dan syarat munakahat, maka pernikahan sirrinya akan dinyatakan sebagai pernikahan yang sah secara hukum dan selanjutnya Krisna Mukti dan isterinya akan diberikan salinan penetapan yang harus dibawa ke KUA untuk dilakukan pencatatan pernikahan. Fungsi PA hanya untuk menetapkan pernikahan itu telah sesuai dengan rukun dan syarat menurut agama Islam sedang fungsi pencatatan nikah tetap pada KUA Kecamatan.

Kalau ternyata pernikahan sirri yang dilakukan oleh Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti itu oleh PA dinyatakan telah dilakukan tidak sesuai atau melanggar rukun dan syarat pernikahan menurut hukum agama Islam, maka PA akan memberikan penetapan yang amarnya menolak itsbat nikah para Pemohon. Maka dengan penetapan penolakan itsbat nikah itu Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti baru dapat mengajukan pernikahan ke KUA Kecamatan.

Kalau salah satu dari Krisna Mukti atau Devi Nurmayanti keberatan pernikahan sirrinya diitsbat nikahkan (disahkan), maka tidak bisa ditempuh secara voluntair (bentuk permohonan) tetapi harus berbentuk gugatan (Kontentius). Pihak yang menghendaki nikah sirrinya disahkan bertindak sebagai Pemohon dan pihak yang tidak menghendaki nikah sirrinya disahkan dijadikan sebagai Termohon.

Jadi tindakan Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti yang telah menikah secara sirri di akhir Desember 2013 kemudian menikah lagi secara resmi pada hari Senin tanggal 23 Juni 2014 merupakan tindakan yang tidak benar menurut hukum? Yang harus dilakukan oleh Krisna Mukti dan Devi Nurmayanti adalah mengajukan pengesahan nikah (itsbat nikah) Ke Pengadilan Agama Depok. Wallahu a’lam bisshowab.

* Diterbitkan harian Orbit Medan pada edisi 1224 hari Jum’at 4 Juli 2014

 

  • selamat-saiful
  • selamat-muslih
  • selamat-rizal
  • ucapan-kpta
  • Duk-Ellyda
  • ucapan-waka-pta
  • ucapan-wisuda
  • duk-likwan
  • sel-rivai